PUISI - TIKA RINDU DAN SEBUAH KISAH

Friday, January 16, 2015

Assalamualaikum & salam sejahtera.





Tika rindu membara

Kuntum kasih kian berbunga

Tiada sempadan waktu

Menjamah rindu bertamu..




Tika rindu bergemuruh

Embun kasih kian meluruh

Tiada jarak pemisah

Sewaktu rindu meresah



KISAH EMBUN DAN DAUN


Pukul 03.00. Suara kokok ayam jantan membangunkan lelapku. Perlahan kubuka mataku dan kulihat kawan-kawanku mulai tersedar. Aku pun bertasbih kepadaNya mengucap syukur yang tak terkira. Pagi ini terasa dingin sekali. Tidak seperti biasanya saat kubuka mataku, ada sosok yang begitu asing di mataku. Ia tiba-tiba ada di permukaan tubuhku. Siapakah dia ? Alangkah bening dan eloknya dia. Dalam dinginnya pagi, aku merasakan kesejukan yang luar biasa darinya.


“Assalamualaikum wahai makhluk Allah…?” sapaku kepadanya. Tak terdengar jawapan. Makin penasaran aku, maka kugerakkan permukaanku agar dia dapat meluncur ke dekatku. Hmm, mungkin dia tak mendengar suaraku. Sekali lagi kusapa, “Assalamualaikum wahai makhluk Allah…?!”. Dan suara lembut pun terdengar, “Waalaikumussalam warohmatullah…”. Makhluk itu pun membuka matanya dan tersenyum padaku.


“Siapa dirimu ?” tanyaku. “Namaku embun, mungkin kau selama ini mengetahui yang namanya air. Namun air ada banyak jenisnya. Dan salah satunya adalah diriku ini,” ujarnya memperkenalkan diri. “Mengapa kau berada di sini ?” tanyaku semakin penasaran. “Aku pun tak tahu, saat aku bangun aku sudah berada di atasmu :)”. Selanjutnya aku pun berbincang-bincang jauh bersamanya. Menanyakan berbagai hal, tentang penciptaanNya, tentang tanda-tanda kekuasaanNya, dan lainnya.


Hingga waktu subuh pun tiba. Kami tenggelam dalam alunan merdu panggilanNya. Kulihat manusia-manusia bergerak menuju rumahNya. Alangkah indahnya pagi ini. Rembulan pun masih bersinar memancarkan aura tasbih kepadaNya. Bintang berkelip-kelip laksana mulut yang terkumat-kamit dalam menyebut asmaNya. Hembusan angin melambai-lambai seakan berlari menujuNya. Kami pun hening sejenak tuk bersujud padaNya. Usai sudah keheningan itu, maka kami pun lanjutkan pembicaraan..


05.30. Perlahan mentari menampakkan guratannya di cakerawala. Dan aku melihat perubahan yang aneh pada temanku. Perlahan-lahan ia semakin mengecil. “Mau ke mana dirimu, wahai embun ?” tanyaku padanya. Ia pun menjawab, “Sudah saatnya aku pergi daun, lihatlah sang mentari. Sebentar lagi ia kan membawaku sedikit demi sedikit ke langit.” ucapnya dengan tersenyum.


Bak tersambar petir aku pun terkejut. “Tapi kita baru saja bercengkerama, baru saja aku mengenalmu, namun mengapa kau harus pergi ?”. Embun tersenyum dengan bijak seraya berkata, “Inilah kudrat Tuhan. Tahukah engkau bahawa aku ini hanyalah setitis air ? Aku akan mengwap kerana terik mentari yang menyinari dunia ini. Dan aku akan berubah wujud menjadi awan, hingga angin kan meniupku ke tempat yang baru. Dan aku akan turun lagi sebagai embun jika waktunya telah tiba, :)”ujarnya tersenyum.


Aku pun merasa tak rela seraya berkata, “Jangan pergi embun. Dalam dinginnya pagi kau lah yang memberikan rasa sejuk dalam diriku. Dalam panasnya mentari kau yang akan memberikan rasa dingin padaku. Jika kau pergi, maka diriku akan kering dan ringkih. Jika kau pergi aku tak tahu bagaimana kan mendapatkan kesejukan lagi dalam dinginnya pagi, takkan ku tahu bagaimana mendapatkan dinginnya udara dalam terik mentari.”, ujarku memohon. Maka embun pun menjawab, “Jangan khuatir, esok pasti kau bertemu sosok yang lain seperti diriku, yang kan memberikan kesejukan padamu :) “, jawabnya dengan yakin.


Merasa semakin tak rela, daun pun berkata,”Janganlah kau pergi bersama mentari. Dengarlah janjiku ini bahawa aku kan senantiasa menjagamu agar dapat berdiri di atasku dengan lapisan lilinku. Dengan permukaanku kan kulindungi dirimu dari sengatan mentari. Dengan hijauku kan kupercantik dirimu agar sedap dipandang mata. Tolong tetaplah di sini untuk bersamaku,”pinta daun kepada Embun. Maka embun pun menjawab dengan bijak, “Ketahuilah daun, inilah takdir yang harus kujalani. Mungkin kau merasa nanti di sana aku tak mampu memberikan kesejukan. Siapa kata? Janganlah memandang dari satu aspek saja. Biarlah sang mentari membawaku pergi ke tempat lain. Diriku kan berubah menjadi awan yang nantinya memberi naungan di dunia ini, serta bila berat ku kan kembali menjadi titis-titis hujan yang memberi kehidupan di dunia ini pula. Dan nantinya saat pagi hari aku akan kembali menjadi embun untuk berikan kesejukan bagi siapapun tempat aku berdiri nantinya :”) “.


Daun pun terdiam terpaku menyaksikan temannya embun perlahan-lahan mengecil dan perlahan-lahan menghilang. Ia pun hanya mampu bersedih. Dan siang harinya, ia mendengar suara embun dari langit berkata, “Wahai daun, terima kasih untuk kebersamaannya hari ini. Lihatlah aku dalam gumpalan awan ini. Aku kan siap memberikan naungan bagi yang memerlukan.” ujar embun. Daun pun terdiam memandang ke angkasa.


Tiba-tiba suara itu keluar lagi, “Oh ya satu pesan terakhirku. Mengapa aku begitu ikhlas saat mentari membawaku pergi darimu ? Kerana inilah pengabdianku padaNya. Kerana inilah bukti cintaku padaNya. Jika dirimu mencintai kerana Allah, maka ketika Allah membawaku pergi, aku percaya ada sejuta rahsia yang disimpanNya. Dan aku percaya aku mampu bermanfaat dalam kehendakNya. Jika dirimu mencintai kerana Allah, maka kau akan ikhlas atas ketetapanNya. Kau akan ikhlas akan qadha dan qadarnya. Selamat tinggal daun... Tiada keabadian pada diriku, yang ada hanyalah keabadian cintaku untukNya, Allah SWT.”.


Maka daun pun terdiam, perlahan tersenyum kepada awan yang meninggalkannya 



Sumber cerita asal: Bahan bacaan.


You Might Also Like

2 comments

  1. Salam perkenalan, Semoga Allah memberkati hari2 kita. in shaa allah.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. waalaikumussalam... eamy, salam perkenalan juga... in shaa Allah :)

      Delete

Like us on Facebook

Cbox

Subscribe